Empat Juni


4 Juni 1999
Hari itu ibuku mungkin sedang sibuk memikirkan perayaan ulang tahunku tiga bulan lagi. Mungkin bukan perayaan, terlalu sederhana untuk disebut perayaan. Kami lebih suka menyebutnya sebagai syukuran. Bersyukur atas bertumbuh dan bertambahnya usia seorang anak perempuan yang hadir sebagai pengganti ketiga kakaknya yang lebih dahulu disilakan Tuhan untuk bergembira di surga.


Di hari yang sama, seorang ibu lain sedang merindu luar biasa. Rindu menggebu pada seseorang yang belum sekalipun ia bertemu. Demi menuntaskan rindunya, sang ibu mempertaruhkan nyawa dan segala yang berharga dalam hidupnya. Begitu baik Tuhan, menghadirkan sosok mungil nan lucu di tengah keluarga kecil itu.

Di telinga mungilnya, gema adzan sang ayah menandai awal dari seluruh perjalanan bayi lelaki itu.

4 Juni 2017
Hari itu aku disibukkan dengan persiapan sidang tugas akhir. Betapa hebatnya aku jika bisa lulus di tengah sakit dan patah hati terburukku tahun itu. Hari itu aku bahkan tidak tahu bahwa seseorang di sana sedang merayakan usianya dalam sepi.


Tetapi dalam sepinya, lelaki yang berulang tahun itu diam-diam tersenyum menerima hadiah berupa kata-kata dari seseorang.

Dan aku tidak tahu.

“Belum waktunya bertemu,” semesta berujar.

4 Juni 2018
“Aku sudah bertemu dengannya.” kataku pada semesta. Aku merasa perlu mendapat jawaban mengapa aku dan kamu dipertemukan. Tapi semesta pura-pura tidak mendengar.


Kamu tahu betapa aku menanti-nanti hari ini dengan gelisah. Khawatir kalau saja semesta berubah-ubah, sama seperti keadaan cuaca setiap kali kita bertemu, kamu ingat? Sungguh, tak ada satu pun skenario Tuhan yang berhasil kutahu alurnya. Seperti kali ini, aku ada di sampingmu di salah satu hari bahagiamu. Tapi di saat yang sama, akuilah bahwa masing-masing dari kita merasa hilang dan tidak merasa pulang.



Sebelum hari ini datang, di pagi hari tangan-tanganku memupuk harapan-harapan agar bisa merayakan hari ini dengan bahagia, tanpa jeda. Lalu di tengah malam, tangan-tanganku menengadah, memohon hal yang sama.



Pada akhirnya hari ini datang, membawa perasaan-perasaan tidak terjelaskan. Bahagia, marah, ragu, haru, rindu, lebur jadi satu. Andai pelukmu dapat kurasakan sekali lagi, agar bisa kamu rasakan detak jantungku memohon agar kamu tidak pergi.

Aku tidak tahu tangan seperti apa yang merawatmu hingga hatimu begitu lembut; sebuah kenyataan yang membuatku jatuh cinta tanpa rasa takut. Tapi kutahu, ialah ibumu yang telah membuatmu menjadi lelaki yang kutemui hari ini. Lelaki baik yang kupercaya tidak sampai hati menyakiti perempuan mana pun, tidak ibunya tidak juga kekasihnya. Semoga...



Selamat mendewasa, Raka Janitra Arkaan. Jadilah sebaik-baik arti dari namamu sendiri. Begitu baik kedua orangtuamu mendoakanmu. Kali ini, kamu bertanggungjawab atas doa-doa itu. Maka lepaskan apa pun yang tidak membuatmu berarti.



Di bahumu, beban dan harapan terlihat sama saja. Keduanya bertambah berat, hari demi hari. Untuk itu, aku ingin kamu lebih kuat. Aku ingin kamu lebih tabah, karena percayalah, tidak ada bahagia yang singgah tanpa berlelah-lelah.



Aku ingin menjadi sebaik-baik tempat
Untuk kesedihanmu pulang,
Ketika hidup mengujimu tanpa ampun

Jangan pernah takut tersesat
Sebab dalam doa, telah kurapal namamu berulang-ulang
Percayalah Tuhan akan selalu menuntun

Tetaplah dekat, jangan membuat sekat
Aku tidak ingin kamu hilang,
Menguap atau jatuh ke tanah, seperti embun

Selamat
ulang
tahun



Bekasi, Juni 2018


tulisan oleh Asri Ayu
ilustrasi oleh Raka Janitra

bisa berkarya bersama kamu adalah salah satu nikmat Tuhan yang tidak boleh kuingkari:)

You Might Also Like

0 comments